Terus Berkembang Menuju Kehidupan Lebih Baik

Pengertian Pengembangan Diri

Pengembangan diri adalah proses atau upaya untuk mengembangkan potensi, bakat, pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian seseorang secara terus menerus untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik, lebih terarah, dan lebih mandiri. Proses ini dapat diartikan sebagai hal yang terus menerus dilakukan setiap saat, setiap hari, dan setiap waktu, yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik dan berkualitas.

Proses Berproses

Berproses adalah suatu hal yang membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan seumur hidup pun seseorang tetap berproses, kecuali ketika seseorang telah tiada maka proses itu pun berhenti. Dalam hidup, proses ini sangat penting untuk menjadi seorang biarawati atau biarawan yang berkualitas. Namun, bukan hanya para biarawan atau biarawati saja yang perlu melewati banyak proses dan perjuangan, tetapi siapa saja yang ingin hidupnya berkualitas juga harus bersedia melalui banyak proses dan perjuangan serta merasakan proses itu sendiri.

Proses dan Niat

Bagi saya secara pribadi, proses itu mudah apabila dalam diri seseorang memiliki kemauan dan niat untuk mengubah hidupnya. Sedangkan terasa sulit apabila dijalankan hanya karena terpaksa atau hanya memenuhi sebuah kewajiban. Masa lalu yang telah dilewati, entah itu yang menyakitkan atau menyenangkan menjadi tolak ukur bagi saya secara pribadi untuk berproses menjadi lebih baik.

Pengolahan Hidup

Ada sebuah istilah dalam dunia psikologi yaitu pengolahan hidup. Pengolahan hidup adalah sebuah proses dimana seseorang belajar untuk mengolah peristiwa masa lalu yang menyakitkan. Peristiwa masa lalu ini akan terus diproses hingga mengubah cara berpikir kita bahwa hal yang menyakitkan belum tentu buruk untuk perkembangan hidup seseorang, justru pengalaman yang menyakitkan yang membuat seseorang berani untuk bangkit kembali dan mengubah hidupnya. Oleh karena itu pengalaman pribadi saya di masa lalu akan membantu saya untuk terus berproses hingga akhirnya menemukan siapa diri saya. Pertanyaan "siapakah aku?" membantu saya untuk terus bertanya dan mencari jawaban yang pasti dan memuaskan.

Pengalaman Pribadi

Dalam pengolahan hidup, saya diminta untuk menulis semua peristiwa yang saya alami mulai dari dalam kandungan ibu hingga saat ini. Awal mendengar bahwa harus mulai dari kandungan ibu, saya mulai mencoba untuk berpikir dan mencoba untuk merenungkan bahwa apa yang mau saya tulis, sedangkan dalam kandungan ibu saja saya tidak tahu seperti apa, dan apa yang saya lakukan disana. Ibu kandung saya sendiri mungkin juga tidak mengetahui persis apa yang saya lakukan disana. Mungkin yang dia tahu hanyalah reaksi yang dia rasakan. Namun, ada sebuah refleksi hidup yang mendalam tentang kandungan. Kandungan dalam artian bahwa tempat lahirnya sebuah kehidupan baru atau awal dari sebuah kehidupan. Maka, mengapa sebuah proses pengolahan hidup harus dimulai dari kandungan ibu, karena awal yang akan menentukan jalannya proses selanjutnya.

Proses Pengolahan Hidup

Dalam proses pengolahan hidup, saya melihat kejadian, peristiwa demi peristiwa setiap hari dan setiap saat. Karena kejadian sekecil apapun akan mempengaruhi hidup saya secara pribadi. Saya diminta untuk melihat peristiwa-peristiwa yang menyakitkan bagi saya yang membuat saya trauma akan sesuatu hal dan trauma ini membuat saya menjadi pribadi yang tidak berkembang. Merasa diri buruk dan tak pantas dihadapan orang lain. Maka, melalui proses pengolahan hidup ini, akan membantu saya untuk menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berpikir positif terhadap diri sendiri dan menganggap diri berharga dihadapan siapapun.

Pengalaman yang Menyakitkan

Ada sebuah pengalaman hidup saya sederhana yang menyakitkan bagi saya secara pribadi dan itu mempengaruhi perkembangan hidup saya. Ketika saya berusia 6 tahun sampai dengan usia 15 tahun, saya dibully oleh orang-orang yang ada disekitar saya. Mereka mengatakan bahwa saya seperti orang yang tidak waras, sehingga apapun yang saya lakukan dan apapun yang saya katakan terlihat aneh di hadapan mereka, padahal saya melakukannya sama seperti orang-orang pada umumnya. Waktu itu saya hanya diam dan tersenyum tanpa berpikir apa-apa dan juga tanpa membalas sepatah katapun. Waktu terus berlalu dan saya menganggap peristiwa ini, bukanlah suatu hal yang serius. Dalam proses pengolahan hidup, saya menemukan kembali peristiwa ini di usia saya yang ke-20 tahun. Saya menemukan bahwa peristiwa ini sungguh menyakitkan bagi saya. Waktu peristiwa itu, sebenarnya ada perasaan sakit namun saya menekannya setiap kali saya menerima perkataan itu sehingga luka yang saya tanam semakin hari semakin besar sehingga mempengaruhi kepribadian saya.

Proses Pengolahan Hidup

Perasaan rendah diri, merasa tidak layak, tidak percaya pada diri sendiri, merasa takut, berpikir negatif terhadap diri sendiri dan merasa lebih buruk dari orang lain. Semua perasaan muncul dari alam bawah sadar saya yang selama ini saya tekan. Maka dari itu, saya mulai mengolah secara perlahan untuk membantu saya mengubah cara pandang saya terhadap peristiwa ini, sekali lagi saya katakan bahwa bukan mengubah peristiwanya tetapi mengubah cara pandang saya terhadap peristiwa ini. Selama kurang lebih 4 tahun saya berproses dengan segala macam jenis dan cara untuk bisa mengubah cara pandang saya. Mulai dari menulis secara detail peristiwanya, dituangkan dalam bentuk gambar, dimeditasikan, lalu dikontemplasikan. Setelah itu saya membuat bentuk dari tanah liat dan hasil akhir dari tanah liat ini yang dijadikan sebagai tolak ukur untuk melihat siapa diri saya sebenarnya, serta seberapa besar peristiwa yang menyakitkan membawa saya pada sebuah perubahan hidup.

Proses Berproses Seumur Hidup

Waktu 4 tahun hanyalah dasar dan pengenalan serta awal proses saya. Maka, belumlah cukup jika mengolah hidup hanya 4 tahun. Proses adalah hal yang dijalani seumur hidup, begitupun dengan pengolahan hidup, berlangsung seumur hidup bukan hanya dengan waktu yang singkat. Jika sudah menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya serta bagaimana cara pandang serta pola pikirnya, maka langkah selanjutnya adalah niat dan kemauan untuk berubah. Jika tidak ada kemauan, dengan cara apapun dan bagaimanapun tidak akan berhasil, jika berhasil itupun mungkin tidak berkualitas.

Kesimpulan

Dari pengalaman pribadi diatas, kita mendapatkan sebuah pengertian dan penjelasan bahwa berproses itu bukanlah suatu hal yang mudah dan bukan dalam waktu yang singkat, namun jika dijalani dengan penuh sukacita dan kegembiraan maka semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, sejauh orang itu ingin berkembang atau tidak. Setiap orang maupun setiap pribadi pasti memiliki keinginan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jika dia tidak memiliki keinginan untuk mengubah hidupnya maka orang itu juga tidak mau dirinya berkembang. Bagi saya secara pribadi, jika tidak ada kesempatan khusus seperti saya dalam proses pengolahan hidup untuk menulis, meditasi dan kontemplasi siapapun bisa mengolah hidupnya dengan cara yang lain, yang terpenting adalah memiliki kemauan dan niat untuk sungguh-sungguh mengolah diri dengan segala hal yang ada dalam dirinya terlebih khusus mengolah emosi, perasaan, dan gejolak yang muncul dalam pikiran dan hatinya serta bagaimana kita mengubah cara pandang kita terhadap segala peristiwa yang kita alami. Karena dari cara pandang kita lah yang mengubah cara berpikir, bertindak dan bertutur kata.

Masa Lalu dan Masa Depan

Masa lalu yang telah kita lewati dan yang telah kita alami bukanlah suatu hal yang perlu disesali secara terus menerus tetapi jadikan masa lalu itu sebagai langkah awal untuk mengubah hidup kedepannya menjadi lebih baik, karena kita hidup untuk masa depan bukan untuk masa lalu. Masa lalu tidak mampu kita ubah dengan cara kita, cara kita memaknainya itu yang perlu diubah. Masa lalu adalah bagian dari cerita hidup seseorang. Maka, perkembangan hidupnya pun juga termasuk bagaimana ia mampu untuk menerima segala bentuk luka yang dialaminya. Ia harus pada tahap pengakuan dan pengampunan. Mengakui bahwa dirinya pernah terluka dan mengampuni orang-orang yang telah melukainya. Menerima dirinya sebagaimana adanya. Dengan menerima, kita bukan hanya menerima peristiwa yang kita alami, tetapi juga menerima orang yang telah melukai kita, menerima bahwa itu memang menyakitkan. Menerima bahwa diriku pernah terluka. Kita harus benar-benar menyadari bahwa kita pernah ada diposisi yang menyakitkan. Karena dengan kesadaranlah kita bisa membantu diri kita sendiri untuk mengubahnya.

Bakat dan Talent

Dalam berproses, pasti ada banyak hal yang dialami entah itu sakit, kecewa, perasaan bersalah, penyesalan dan bahkan menyalahkan banyak pihak atas kejadian yang terjadi. Terkadang ada juga perasaan bahwa hanya kitalah yang paling menderita. Kita merasa bahwa masalah kitalah yang paling buruk dari orang lain. Padahal, banyak orang juga mengalami hal yang sama. Namun, perasaan-perasaan yang muncul itu adalah bentuk dari proses menuju pemurnian dan perkembangan diri. Saya secara pribadi dalam proses menemukan jati diri saya yang sesungguhnya, banyak hal yang saya alami dan yang saya rasakan. Terkadang saya merasa putus asa dan ingin menyerah, dan ingin berhenti berproses, karena saya sendiri merasa berada di jalan buntu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun menyerah bukan salah satu jalan untuk mengembangkan diri. Menyerah bukanlah salah satu jalan untuk bisa mengubah hidup saya, justru akan mempersulit keadaan dan menambah beban bagi diri sendiri. Bagi saya secara pribadi, orang yang menyerah berarti orang yang tidak mencintai dirinya sendiri, orang yang tidak mau hidupnya berkembang dan mungkin orang yang. Apapun yang terjadi berjalan terus karena proses tidak akan mengkhianati hasil jika sungguh-sungguh berjuang dan berusaha. Maka, dengan tulisan reflektif ini, saya berharap agar semua orang yakin pada dirinya sendiri dan mari kita belajar bersama untuk terus berproses dan berusaha.

0 Response to "Terus Berkembang Menuju Kehidupan Lebih Baik"

Posting Komentar