Warisan Rasa Lamongan: Dari Wingko Babat Hingga Nasi Boran yang Menggugah Selera
Semarang, kota yang menyimpan banyak cerita, ternyata juga menyimpan kejutan kuliner. Saat pertama kali menjejakkan kaki di kota ini untuk melanjutkan pendidikan 25 tahun lalu, penulis terkejut mendapati wingko menjadi salah satu oleh-oleh khasnya. Padahal, dari namanya saja, "Wingko Babat", kuliner manis ini jelas berasal dari Kecamatan Babat, Lamongan, sebuah daerah yang berbatasan dengan Kecamatan Widang, Tuban. Pengalaman masa SMP di Babat pun turut memperkuat ingatan akan aroma wingko yang khas tercium di bus sepulang sekolah, terutama saat melewati depot wingko di kawasan tersebut.
Mengurai Benang Merah Asal Usul Wingko
Misteri asal usul wingko akhirnya terkuak melalui penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Zudi Setiawan, seorang Dosen FISIP Universitas Wahid Hasyim Semarang. Dalam tulisannya yang berjudul "Meluruskan Klaim Wingko Babad" di Kompas.com, Zudi memaparkan bahwa wingko babad pertama kali ditemukan di Semarang sekitar tahun 1946. Kehadirannya di kota ini tidak lepas dari peran seorang wanita keturunan Tionghoa bernama Loe Lan Hwa.
Bersama suaminya, The Ek Tjong (yang kemudian memilih nama D. Mulyono) dan kedua anak mereka, Loe Lan Hwa terpaksa mengungsi dari Babat ke Semarang pada tahun 1944. Situasi global yang memanas akibat Perang Dunia II menjadi latar belakang perpindahan mereka. Demi mencari kehidupan yang lebih layak dan aman, Loe Lan Hwa dan The Ek Tjong mulai memproduksi wingko khas Babat pada tahun 1946.
Awalnya, wingko buatan mereka dijajakan dari rumah ke rumah. Selain itu, mereka juga menitipkan dagangan mereka di sebuah lapak sederhana yang menjual makanan di Stasiun Tawang Semarang. Pemilik kios tersebut kemudian menawarkan wingko dan kudapan lainnya kepada penumpang setiap kali kereta api berhenti, demi memperkenalkan produk baru ini.
Secara perlahan, kue yang berbahan utama tepung ketan dan kelapa ini semakin digemari. Banyak pembeli yang penasaran dengan nama kudapan tersebut. Untuk menjawab rasa penasaran itu, The Ek Tjong akhirnya memilih nama "wingko babad" sebagai pengingat akan asal usul mereka dari Kota Babat, Lamongan. Hingga kini, wingko babat tetap menjadi oleh-oleh ikonik yang identik dengan Lamongan maupun Semarang.
Jejak Kuliner Lamongan: Lebih dari Sekadar Soto dan Pecel Lele
Upaya Zudi Setiawan dalam menyingkap sejarah wingko babat menjadi inspirasi berharga untuk mengungkap asal usul kuliner yang kini populer dan terkait dengan dua kota sekaligus. Hal ini penting untuk meminimalkan klaim sepihak dan menyajikan sejarah yang utuh.
Semangat inilah yang mendorong Hufaf Ardana dan Fitri Areta untuk meluncurkan buku berjudul "Jejak Kuliner Lamongan" belum lama ini. Buku ini didedikasikan untuk mengabadikan berbagai kuliner khas dari kota bahari tersebut. Sebagai warga asli Lamongan, penulis menyambut gembira kehadiran buku ini. Kegembiraan ini datang dari harapan agar khazanah kuliner daerah dapat lestari melalui dokumentasi literasi. Selain itu, penulis juga berharap buku ini dapat memotivasi penulis di daerah lain untuk memotret potensi kuliner masing-masing sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Sihir Nasi Boran: Kenikmatan yang Bertahan di Lamongan
Ketika berbicara tentang kuliner Lamongan, tidak hanya soto dan pecel lele yang mendominasi. Selain wingko babat yang lezat, ada pula nasi boran yang menawarkan kenikmatan tak kalah istimewa. Berbeda dengan soto, pecel lele, dan wingko, nasi boran cenderung bertahan dan tidak banyak dijual di luar Lamongan.
Hal ini membuat warga Lamongan yang merantau seringkali punya ungkapan khas saat pulang kampung: "Muleh Lamongan berarti kudu nyempetno mboran." Ungkapan ini merujuk pada aktivitas berburu kuliner nasi boran yang mayoritas hanya dapat ditemukan di Lamongan kota. Bahkan, seorang sahabat penulis yang berprofesi sebagai eks jurnalis di Surabaya selalu berbinar saat dibawakan satu kotak berisi lauk bumbu boranan.
Menurut buku "Jejak Kuliner Lamongan", kata "boran" berasal dari dua suku kata dalam bahasa Jawa: "bo" (abo) yang berarti besar, dan "ran" yang berarti kaki. Penamaan kuliner khas ini merujuk pada wadah penyajiannya. Nasi putih atau nasi jagung disimpan dalam "boran", sebuah wadah menyerupai keranjang anyaman bambu yang bagian bawahnya ditopang bilah bambu. Desain ini bertujuan agar nasi tidak bersentuhan langsung dengan tanah, sekaligus menambah cita rasa nasi saat disantap.
Keunikan nasi boran terletak pada lauk dan bumbu sambal yang disiramkan di atasnya. Satu porsi nasi boran biasanya terdiri dari nasi putih/jagung, lauk pilihan, empuk (semacam bakwan sayur), urap sayur, dan tentu saja rempeyek. Pilihan lauknya sangat beragam, mulai dari ayam, ikan bandeng, ikan gabus, telur asin, ceker, telur dadar, tahu tempe, hingga ikan sili. Ikan sili merupakan lauk yang terbilang langka dan khas disantap bersama nasi boran. Bumbu nasi boran yang kaya rempah menghasilkan rasa dominan pedas gurih yang membuat warga asli Lamongan berkomentar, "Segere megilan!" yang berarti sangat nikmat.
Sebagai upaya pelestarian kuliner ini, hampir setiap tahun diadakan lomba bumbu nasi boran yang diikuti oleh berbagai penjual dari seluruh Lamongan. Pemenang lomba ini biasanya meraih kesuksesan pasca penobatan. Pada tahun 2017, penulis berkesempatan mencicipi seporsi nasi boran gratis saat perayaan Hari Jadi Lamongan ke-488. Puluhan penjual boranan berjaga di sekitar alun-alun, siap melayani warga yang datang dengan cuma-cuma. Selain itu, pada tahun 2023, tari boran mulai ditampilkan secara massal oleh para pelajar untuk memperingati Hari Jadi Lamongan ke-454. Pergelaran ini bahkan berhasil mencetak rekor MURI dengan melibatkan 1.569 penari dari kalangan pelajar Lamongan dan menyajikan setidaknya 4.540 porsi nasi boran.
Pecel Lele dan Nasi Muduk: Ikon Kuliner Lamongan yang Mendunia
Membahas Lamongan tanpa menyebut pecel lele tentu tidak lengkap. Kedai pecel lele khas Lamongan telah berdiri kokoh di berbagai penjuru Indonesia, menjadi pahlawan bagi keluarga dan daerah. Meskipun menunya beragam, lele yang dibalut sambal pedas menjadi ikon yang paling sering dibicarakan.
Keunikan pecel lele tidak hanya terletak pada jangkauan wilayahnya yang luas, tetapi juga pada sambalnya yang otentik dan menggugah selera, sehingga membuat banyak orang ketagihan. Bagi yang penasaran mengapa sambal pecel lele terasa begitu khas, jawabannya terletak pada bahan tambahan yang mungkin tidak disadari. Sambal pecel lele asli biasanya diulek dengan campuran tidak hanya kacang tanah, tetapi juga kacang mede dan sebagian menggunakan wijen. Kedua komponen inilah yang memberikan rasa gurih dan nikmat pada sambal.
Pecel lele, sebagai usaha turun-temurun, sangat eksis di Kecamatan Sekaran dan Kecamatan Maduran. Banyak warga dari daerah ini yang merantau dan membuka usaha penjualan pecel lele atau soto ayam. Penulis pernah mengunjungi daerah ini dan takjub dengan kemegahan masjid di desa tersebut, yang ternyata merupakan hasil kontribusi warga setempat dari usaha kuliner lele dan sejenisnya.
Lamongan memang tidak pernah kehabisan hidangan yang mengenyangkan dan menggugah selera. Selain nasi boran dan pecel lele, jangan lupakan nasi muduk khas Paciran, khususnya dari Desa Sendang Agung di pesisir utara Lamongan. Nasi ini memiliki rasa gurih, legit, dan pedas yang menggoyang lidah para penikmat kuliner.
Keistimewaan nasi muduk berasal dari ramuan rempah yang cukup lengkap, meliputi lengkuas, jahe, kunyit, kencur, jintan, daun serai, dan bahkan cengkih. Penambahan pala, kayu manis, dan santan semakin memperkaya cita rasa nasi ini. Nasi muduk biasanya disantap dengan lauk seperti ikan pindang, telur, cumi, ikan asin, kering tempe, atau jeroan ayam. Tak lupa, rempeyek turut melengkapi hidangan ini.
Es Batil dan Dawet Siwalan: Kesegaran Khas Lamongan
Tidak hanya sajian makanan berat, Lamongan juga menawarkan minuman yang menyegarkan. Salah satunya adalah es batil. Pada tahun 2019, beberapa relawan Kelas Inspirasi dari luar Lamongan sempat kebingungan saat diajak mencicipi es ini. "Hah, es batil? Ada enggak es yang haq?" canda mereka setelah mengetahui maksud sebenarnya.
Es batil ini mirip dengan es campur, namun dengan kondimen khas Lamongan: kacang hijau, dawet hijau, irisan siwalan, gudir (agar-agar), dan tentu saja bintang utamanya: batil! Apa itu batil dan bagaimana rasanya? Semua penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam buku karya Fitri Areta dan Hufaf Ardana, termasuk informasi mengenai es dawet siwalan yang gurih berkat santan segarnya.
Cara Unik Memperkenalkan Kuliner Lamongan
Buku "Jejak Kuliner Lamongan" langsung memikat hati penulis bukan semata karena menyajikan khazanah makanan dan minuman khas kampung halaman. Keunikan pertama adalah sedikitnya penerbit yang melirik resep lokal untuk disajikan kepada pembaca Nusantara. Penerbitan buku ini merupakan langkah kreatif untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan cita rasa daerah yang sangat kaya.
Ukuran buku yang lebar membuat proses membaca menjadi sangat menyenangkan. Buku dapat dibuka ke kanan atau ke kiri dengan sempurna tanpa takut tertutup sendiri. Pilihan kertasnya pun nyaman di mata, terutama saat dibaca di area minim cahaya. Dibandingkan kertas HVS, kertas ini juga lebih ringan, sehingga menghemat biaya pengiriman antarkota.
Daya tarik lainnya adalah gambar-gambar yang menghiasi setiap halaman buku. Karya digital art Hufaf tidak hanya sekadar ilustrasi jenis kudapan atau minuman, melainkan menjadi jeda yang menghibur pembaca. Cerita menjadi lebih hidup berkat gambar yang luwes dan penuh warna. Goresan tangan lulusan DKV ITS Surabaya ini sekilas mengingatkan pada gaya Pidi Baiq, namun dengan sentuhan warna yang lebih kaya.
Terakhir, resep-resep yang disisipkan di setiap bab menjadi penguat buku sekaligus menunjukkan komitmen penulis untuk menghidupkan kuliner Nusantara, karena pembaca dapat langsung mempraktikkannya. Dengan bahasa yang ringan, setiap menu makanan dan minuman tidak hanya ditulis, tetapi diceritakan dengan gaya yang akrab, seolah bercerita kepada sahabat karib yang tidak hanya hobi makan, tetapi juga ingin memahami sejarah di balik setiap hidangan.
Lamongan memang luar biasa, semoga daerah lain dapat mengikuti jejaknya dalam melestarikan kekayaan kuliner mereka.
Judul: Jejak Kuliner Lamongan Penulis: Hufaf Ardana & Fitri Areta Penerbit: Esensi, imprint Penerbit Erlangga Tahun: 2025 Tebal: x + 118 hal ISBN: 978-634-7049-42-1
0 Response to "Lamongan: Lebih dari Soto & Pecel, Jelajahi Wingko & Sego Boranan"
Posting Komentar