Perpustakaan 24 Jam di Sudut Kos Mahasiswa Ambon

AMBON, Erfa News- Di atas teras kos-kosan yang terletak di sebuah gang sempit, terdapat lapak kecil yang berisi tumpukan buku.

Lapak berwarna hijau cerah ditempatkan di sudut teras yang lebarnya hanya satu meter. Lokasinya berada di gang Perumnas Tihu, Poka atau dekat kawasan Universitas Pattimura Ambon, Provinsi Maluku.

Pada siang hingga sore hari terlihat pengunjung keluar masuk ke situ. Tak sedikit mahasiswa atau warga yang duduk nongkrong meneguk kopi "kejujuran" yang disedikan sambil membaca buku.

Kegiatan yang serupa juga terlihat pada malam hari hingga menjelang pagi. Selalu ada satu atau dua pengunjung atau rombongan yang sedang membaca buku atau hanya mencari referensi untuk tugas kuliah.

Tempat yang sederhana tersebut ternyata merupakan perpustakaan 24 jam yang dibangun oleh Dinda Hijrah di kosannya dan diberi nama Perpustakaan Menaina.

Perpustakaan sederhana tersebut terdiri dari buku-buku pribadi yang selama bertahun-tahun menemani perjalanannya mulai dari masa sekolah hingga menjadi mahasiswa.

"Kami hadirkan perpustakaan Menaina sebagai wujud perlawanan terhadap sistem penyebaran ilmu yang tidak seimbang yang kami alami di wilayah Indonesia timur," ujarnya dengan penuh semangat kepadaErfa News pada Senin (19/1/2026).

Ada ratusan judul buku yang tersedia. Namun, buku-buku yang membahas hukum dan perempuan menjadi yang paling banyak.

Hal tersebut selaras dengan makna kata Menaina. Dalam bahasa Seram, "Mena" berarti di depan dan "Ina" berarti ibu atau wanita.

Oleh karena itu, Menaina bukan sekadar tempat membaca bagi Dinda, melainkan sebuah pergerakan.

Gerakan sekaligus Bentuk Protes

Perpustakaan yang berdiri pada 21 Desember 2025 tersebut diakui Dinda sebagai bentuk perlawanan.

Karena itu, harga buku yang tinggi telah menjadi fakta yang tidak dapat dipungkiri di Maluku. Di sisi lain, layanan perpustakaan bagi mahasiswa terbatas dalam hal waktu dan kualitas.

"Saya selama ini selalu mengkritik pemerintah, aspirasi saya terdiri dari dua hal. Pertama, pemerintah perlu merancang kebijakan subsidi untuk harga pengiriman buku ke daerah Indonesia timur agar mengurangi biaya pengiriman yang mahal, sehingga buku-buku dapat kami beli," tegasnya.

"Harga buku dapat sesuai dengan kemampuan keuangan pelajar dan mahasiswa, sehingga bisa diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Karena jika buku terlalu mahal maka ilmu akan menjadi barang mewah, sehingga pengetahuan hanya akan menjadiprivilege" kata Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unpatti Ambon angkatan 2017 ini melanjutkan.

Bagi dia, kesetaraan bukan hanya tentang hal-hal mendasar yang sering diucapkan. Namun juga mengenai akses terhadap buku berkualitas bagi berbagai kalangan masyarakat.

"Sejak awal kami membuka perpustakaan Menaina, banyak pengunjung yang antusias. Kunjungan terus berlangsung hingga larut malam, baik membaca maupun berdiskusi selalu berjalan," kata Dinda.

"Menurut saya, selama ini masyarakat sering menganggap rendahnya literasi disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat dalam membaca, padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya, masalahnya terletak pada sistem penyebaran ilmu yang tidak adil dan merata, khususnya bagi kami yang tinggal di wilayah timur Indonesia," ujarnya dengan tegas.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah perpustakaan kampus yang hanya buka pada jam kerja.

Selain itu, kampus masih belum mampu menyediakan layanan perpustakaan online seiring dengan perkembangan teknologi dan akses internet.

Oleh karena itu, dengan memiliki buku kolpri (koleksi pribadi) lebih dari 300 judul, Dinda mendirikan perpustakaannya sendiri yang dapat diakses 24 jam oleh masyarakat umum.

Rakyat Cerdaskan Rakyat

Perpustakaan Menaina memiliki slogan, "Rakyat Cerdaskan Rakyat". Dengan bantuan temannya, tulisan tersebut mereka lukis di dinding kos sebagai tanda bahwa tempat ini adalah area untuk membaca.

Tagline dipilih karena baginya kecerdasan tidak berasal dari kekuasaan tetapi dari kesadaran rakyat sendiri.

"Maka kami sendiri yang memulai, kami menciptakan ruang dan memberikan akses sebanyak mungkin terhadap buku sehingga proses pendidikan tetap berlangsung, jadi pendidikan tidak hanya terbatas pada lembaga formal," ujar mahasiswa semester 7 yang saat ini menempuh gelardouble degreedi Fakultas Hukum angkatan 2022 di kampus yang sama.

"Tetapi, di sini juga tersedia buku-buku akademik yang dibaca oleh mahasiswa dan dosen di kampus, yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat umum di perpustakaan Menaina ini, dengan tujuan agar masyarakat dapat saling meningkatkan pengetahuan sesuai amanat konstitusi," katanya lagi.

Namun, menurut Dinda, buku-buku di Perpustakaan Menaina belum bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Karena jumlah salinan setiap judul hanya satu buah.

Di lokasinya, Dinda didampingi oleh seorang relawan aktif, Sukma Patty dan beberapa teman lainnya, membuka kafe "kejujuran". Mereka menyediakan air panas dan kopi instan, sendok serta gelas.

Menariknya, tidak ada harga tetap untuk segelas kopi. Siapa saja yang ingin minum cukup menyeduh kopi sendiri dan meletakkan uang di dalam kotak yang tersedia.

Haspa, seorang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Keguruan, bersama dua temannya tiba menjelang sore setelah selesai perkuliahan. Tanpa ragu, mereka memasuki Perpustakaan Menaina dan memilih beberapa buku.

"Baru selesai kuliah, kami membaca sebagai referensi. Karena, di Perpustakaan tidak tersedia dan waktu terbatas," katanya saat diwawancarai.Erfa News, Senin.

Beberapa buku yang terkenal seperti "Madilog Tan Malaka", novel "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" karya Brian Khrisna menjadi pilihan mereka.

Menurut Haspa, kehadiran Menaina di dekat kos menjadi tempat berkumpul baru yang bernilai. Selain berbincang dan minum kopi, juga memberikan tambahan bacaan yang memperluas wawasan berpikir.

Perpustakaan ini masih dijalankan oleh Dinda bersama rekan-rekannya secara mandiri. Perlahan namun pasti, mereka akan menambah jumlah buku serta variasi jenis buku yang tersedia.

Salah satu yang menarik perhatian adalah buku karya John Perkins berjudul "Confessions of an Economic Hit Man".

Buku yang mengungkapkan sisi gelap dari politik dan ekonomi dunia, terutama peran organisasi keuangan global serta perusahaan besar dalam mendominasi negara-negara berkembang seperti Indonesia dan menciptakan jerat utang, ketergantungan, kemiskinan struktural, serta kehilangan kedaulatan.

0 Response to "Perpustakaan 24 Jam di Sudut Kos Mahasiswa Ambon"

Posting Komentar