Kisah Mereka dan BPJS Ketenagakerjaan: Ayah Tak Punya Anak Jadi Sarjana, ASN Bantu Sesama dengan Iuran

Pentingnya Asuransi Jiwa dalam Kehidupan Sehari-hari

Asuransi jiwa memainkan peran penting dalam melindungi keluarga dari risiko finansial yang muncul akibat kematian seseorang. Dalam konteks ini, BPJS Ketenagakerjaan menjadi salah satu lembaga yang memberikan perlindungan terhadap pekerja dan keluarganya. Kisah-kisah nyata menunjukkan bagaimana asuransi ini bisa menjadi penyelamat ketika musibah datang tanpa diduga.

Cerita Titin Indrayanti: Kekuatan Asuransi dalam Kehidupan Keluarga

Titin Indrayanti (54), seorang pedagang kelontong di pasar Karanganyar, Purbalingga, memiliki tekad kuat untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Bersama suaminya, Wirawan (56), mereka bekerja keras sebagai sopir truk untuk memenuhi mimpi tersebut. Namun, pada 20 Oktober 2023 silam, sebuah kecelakaan mengambil nyawa Wirawan di Rowokele, Kebumen.

Kehilangan suami membuat Titin merasa langit runtuh. Ia harus berpikir keras bagaimana cara bertahan hidup dengan tiga anaknya tanpa bantuan suaminya. Di tengah keputusasaan itu, ia teringat jika suaminya pernah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Ia pun mencoba mengajukan klaim.

Tidak disangka, klaim tersebut berhasil. Titin mendapatkan santunan kematian, biaya pemakaman, dan santunan berkala sebesar Rp 72 juta. Selain itu, BPJS Ketenagakerjaan juga memberikan beasiswa bagi kedua putrinya hingga lulus perguruan tinggi. Anak bungsu yang masih duduk di SMP mendapat Rp 2 juta per tahun, sedangkan yang kuliah mendapat Rp 12 juta tiap tahun.

Perjuangan Bapak Masih Terasa

Dwi Rahma Yunianti (21), puteri kedua Titin, merasa bersyukur memiliki orang tua yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Meskipun ayahnya sudah tiada, ia tetap menganggap itu sebagai bentuk kebaikan dan perjuangan beliau untuk pendidikannya.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi Titin dan keluarga. Sebagai orang tua, ia sadar bahwa musibah dapat datang sewaktu-waktu dan menimpa siapa saja. Untuk mengantisipasi skenario terburuk, kesadaran akan asuransi jiwa selalu ia tanamkan pada keluarganya.

Subsidi dari Pemerintah Daerah

Pemkab Purbalingga juga sadar tentang pentingnya asuransi. Sejak 2024, pemerintah daerah memberikan subsidi iuran BPJS Ketenagakerjaan untuk 1.739 penderes nira kelapa dan 425 buruh tani tembakau. Subsidi ini dialokasikan dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 443,7 juta.

Di Kabupaten Banyumas, subsidi juga diberikan kepada pekerja sosial kemasyarakatan seperti ketua RT, ketua RW, dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, merinci ada 11.017 ketua RT yang menerima manfaat.

ASN Inisiatif Sisihkan Gaji

Selain melalui APBD, sejumlah pejabat ASN di Banyumas juga berinisiatif menyisihkan gaji mereka setiap bulan untuk membantu iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan. Sekretaris Daerah (Sekda) Banyumas, Agus Nur Hadie, mengungkapkan, para pejabat struktural mulai dari Bupati hingga pejabat eselon III berencana menyisihkan gaji mereka setiap bulan.

Peningkatan Partisipasi Pekerja Informal

Meski jumlah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dari sektor formal turun cukup signifikan, partisipasi para pekerja informal justru meningkat. Angka kepesertaan kategori Bukan Penerima Upah (BPU) meroket dari 14.058 peserta pada 2023 menjadi 17.856 pada 2025.

BPJS Ketenagakerjaan Purbalingga masih rutin memberikan beasiswa pendidikan bagi sedikitnya 194 anak ahli waris peserta yang meninggal karena kecelakaan kerja maupun peserta lebih dari tiga tahun yang meninggal karena sebab lain. Mereka terus berupaya membangun kolaborasi dengan mitra baik korporasi maupun wadah Komunitas Perisai (Program Penggerak Jaminan Sosial Indonesia). Sosialisasi juga dilakukan secara massif ke setiap kecamatan karena pekerja informal di desa banyak yang berminat.

0 Response to "Kisah Mereka dan BPJS Ketenagakerjaan: Ayah Tak Punya Anak Jadi Sarjana, ASN Bantu Sesama dengan Iuran"

Posting Komentar