Jenis Orang di Ruang Tunggu Rumah Sakit, Pengalaman Menakjubkan Bersama Ayah

Sudah sejak kemarin adik saya mengingatkan hari ini Bapak kontrol ke Rumah Sakit. Tiga bulan yang lalu Bapak jatuh (kakinya kecantol celana) yang mengakibatkan sendi panggulnya harus diganti. Alhamdulillah operasi berjalan lancar, proses penyembuhannya juga cepat sehingga Bapak sudah bisa berjalan meski belum bisa jongkok.

Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak kemarin malam. Masak sayur lodheh tewel yang makin di-enget makin enak, sudah ngungkep ayam dan pelo ati serta bikin sambel bajak lombok selawe. Tetapi pagi-pagi si 'nduk' minta dibuatkan roti sobek isi coklat. Okelah, semua bahan sudah tersedia jadi satu jam bisa selesai. Yang bikin saya menarik napas panjang adalah Masbojo minta saya membantunya memasang filter air di dapaur. Waduh, jelas butuh lama. Filter air itu entah sudah berapa dibongkar dan dipasang. Untungnya hanya barang jika berupa orang pasti sudah "misuh" karena habis kesabarannya.

Kami baru bisa berangkat pukul sembilan pagi. Padahal janjinya dengan Bapak kemarin pukul 08.00. Dan benarlah kekhawatiran saya, Bapak sudah berangkat duluan. Bapak selalu on time. Orang bilang 'gak kenek disemayani' artinya tidak bisa diberi janji.

Bapak masih mengantri di ruang tunggu ketika saya datang. Saat itu ada yang menyapa saya, Bu Eny , teman mengajar di SMP. Beliau sedang mengantar ibunya kontrol di Poli Syaraf. Kami ngobrol sebentar sebelum Bapak dipanggil perawat. Tanpa saya tahu, Bu Eny sempat-sempatnya mengambil foto saya dan Bapak.

Poli syaraf letaknya bersebelahan dengan poli ortopedi dan poli gigi. Sekilas saya lihat bangku di ruang tunggu ini penuh. Saya baru bisa duduk setelah menunggu kurang lebih lima belas menit. Pasien di poli syaraf silih berganti dipanggil. Poli gigi hari ini hanya buka sore hari. Sedangkan ruangan dokter di poli ortopedi masih tampak tertutup. Mungkin dokternya belum datang.

Ujian kesabaran menunggu dipanggil masuk ke ruangan dokter dimulai lagi. Saya bawa hp yang ternyata kuota datanya 0 (nol) karena terlanjur sering pake wifi jadi sering kelupaan mengisi data. Untungnya di tas saya selalu ada benang lengkap dengan hakpennya. Sengaja sih barng ini saya bawa kemana-mana karena sayang jika waktu terbuang tanpa bikin sesuatu. Saya sedang mengerjakan proyek iphone case.

Satu jam berlalu, Bu Eny dan ibunya sudah selesai, Bapak belum juga dipanggil. Merajut lama-lama bosen juga. Jiwa kepo saya meronta-ronta. Leher yang pegel karena kebanyakan menunduk, membuat saya menoleh ke kanan ke kiri. Wah masih juga orang-orang disini. Saya hitung ada sekitar 35 orang. Sebagian besar, 10 orang asyik dengan hape masing-masing. Lima orang sedang ngemil jajanan. Tiga orang sedang tidur atau tidur-tiduran untuk melawan bosan. Lima orang yang kebetulan tepat di depan saya sedang riuh mengobrol. Selebihnya gabut, seperti Bapak yang bolak-balik melihat kartu kontrolnya, ada yang seperti sedang menghitung orang lewat, ada yang tidak mau duduk tetapi bolek-balik nanya kepada perawat kapan gilirannya masuk.

Akhirnya setelah melakukan pengamatan sekitar satu setengah jam di ruang tunggu dengan responden sekitar 30 orang yang datang dan pergi, saya membuat kesimpulan tentang tipe-tipe orang yang sedang berada di ruang tunggu.

Sebelumnya saya ingatkan dulu ini hanya pengamatan sekilas yang tidak memenuhi persyaratan ilmiah, hanya untuk mengisi waktu supaya isi kepala saya tidak berantem.

Kesimpulannya :

  • Tukang cerita yang banyak bicara
    Saya amati, orang-orang tipe ini adalah pengantar atau yang menemani pasien bisa jadi keluarga, teman atau tetangga ya. Mereka punya banyak bahan untuk diceritakan mulai dari gosip artis sampai pejabat , yang paling seru adalah bangga-bangga an tentang penyakit yang pernah dideritanya.
    "Saya pernah sakit kepala, ngreges, sampai punggung ini terasa ditusuk-tusuk seribu duri"
    "Walah kalau pusing sudah biasa Bu, kaki saya itu kalau pagi gringgingen , adem kayak ada di kulkas."

  • Tukang ngeluh yang duduknya tidak bisa tenang
    Mereka mengeluh karena sakit yang dideritanya sedangkan gilirannya masih jauh. Mereka tidak bisa duduk manis, maunya selonjoran, kadang mengigil, merintih dan gemetaran. Keluarganya biasanya berusaha membuat mereka nyaman di ruang tunggu.

  • Tukang makan yang selalu merasa lapar
    Untungnya di ampng ruang tunggu ini ada fourt court juga pujasera yang siap menerima orang-orang berperut lapar yang pengin makan tetapi tidak bisa jauh-jauh dari ruang tunggu. Biasanya mereka duduk di ruang tunggu dngan sekantung penuh jajanan dan minuman. Mereka tak berhenti mengunyah sebelum masuk ke ruangan dokter.

  • Tukang tidur yang ngantukan
    Sstt, saya termasuk tipe yang ini. Ngantukan. Saya itu nyender sebentar saja langsung bisa ilang. Mata terasa berat sampai gak bisa melek. Tipe yang ini tidak mengganggu oorang lain kok, asal tidak ngorok, tidak bersandar di bahu orang lain, tidak juga meneteskan iler.

  • Tukang tanya yang gak sabaran
    Yang ini kelihatan grusak-grusuk di ruang tunggu. Ia gelisah, sering mondar-mandir, kalaupun duduk bibirnya berkali-kali berdecak "cek...cek...cek". Berkali-kali ia menghampiri perawat menanyakan nomor antrean. Mungkin ia punya janji dengan yang lain, mungkin mau pergi kemana setelah dari sini, mungkin sedang kebelet ...

  • Tukang kepo yang banyak tanya
    Tipe ini hampir sama dengan si tukang cerita tetapi ia banyak bertanya bahkan kepada orang yang baru dikenalnya. Pertanyaannya macem-macem dari penyakit sampai hal-hal pribadi. Ia bertanya kepada saya, mengapa Bapak bisa sampai jatuh sampai berapa harga haskar rajutan saya. Sebenarnya gak papa juga ya, barangkali ia mau beli haskar saya. Walah kok jadi ngarep, lha wong jadi saja belum ni iphone case crochet nya.

  • Tukang diam yang tenang
    Bapak dan lansia seumurannya termasuk tipe ini. Beliau duduk dengan tenang menunggu giliran. Tidak gelisah, tidak kepo, tidak peduli dengan urusan orang lain. Andaikata ada yang jungkir balik pun beliau paling mesem sedikit lalu meneruskan kantuk yang tertunda sambil melanjutkan wirid yang sempat terpotong.

  • Tukang kasih saran yang sok pinter
    Tipe ini bisa dari pasien, bisa juga dari kalangan keluarga yang seang menemani pasien. Pasien yang sudah sembuh 90 persen bercerita tentang penyakitnya, usaha penyembuhannnya lalu memberikan saran yang sarat iklan kepada pasien lain bahkan tanpa diminta. Mereka bisa memberikan diagnosa juga saran pengobatan yang terdengar ampuh melebihi janji dokter yang Cuma bisa bilang, kami usahakan ya , ibu bantu dengan doa.

Begitulah di ruang tunggu rumah sakit, tidak hanya pasien dan keluarganya yang kita temui. Ada banyak hal yang bisa kita ketahui di ruang ini. Ada yang tidak ingin diganggu, ada yang sibuk mengurus dirinya sendiri, ada yang gelisah menunggu, ada pula yang ingin ngobrol karena merasa kesepian.

Mengamati suasana di ruang tunggu membuat saya mendapatkan banyak pelajaran seperti sabar menunggu, sabar menghadapi orang yang bertingkah ajaib di luar nalar. Saya juga mendapatkan pengalaman yang menakjubkan. Ada pasangan suami istri yang tampak saling setia, si istri menuntun suaminya yang jalannya nyeret, tertatih-tatih dengan susah payah. Bisa jadi dulu di masa mudanya si suami gagah perkasa sekarang sakit tak berdaya seperti wayang Gatotkaca kehilangan gapitnya. Tetapi si istri setia.

Oh ya saya juga mendapatkan puisi dari Bu Eny. Isinya tentang anak yang mengantar orang tuanya berobat.
Begini bunyinya
Ada saatnya mendampingi beliau ...
Yang dulu mengantar kita sekolah
Yang dulu nyucikan baju kita
Yang dulu nungguin kita pulang main
Saat beliau butuh
Kutemani berobat
Kutemani mandangin luar jendela
Kutemani cerita-cerita
Bangga beliau semangat dan bersyukur
By Eny Afiyati
Terima kasih Bu Eny, ternyata berbakat jadi penyair juga.

Tanggal 9 Desember mendatang saya masih akan mengantar Bapak ke Poli Jantung. Bisa jadi saya akan bertemu dengan pengalaman yang menakjubkan lagi.

0 Response to "Jenis Orang di Ruang Tunggu Rumah Sakit, Pengalaman Menakjubkan Bersama Ayah"

Posting Komentar