Di antara hiruk pikuk ibu kota, di sudut-sudut kota yang sering terabaikan, terhampar kisah kehidupan yang berbeda. Di trotoar sempit yang seharusnya menjadi jalur bagi para pejalan kaki, sesosok pria bernama Ale, berusia 40 tahun, bersandar pada dinding yang dihiasi coretan grafiti. Di sampingnya, terpampang jelas barang-barang miliknya: sebuah tas, kantong plastik, dan gerobak kayu usang.
"Sudah hampir dua tahun saya di sini. Awalnya hanya numpang lewat mencari barang bekas, tapi lama-lama semakin sulit, jadi saya memilih bertahan saja," ujar Ale, seorang warga kolong asal Bogor, saat ditemui di tepi rel Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat.
Tak jauh dari situ, tumpukan karung dan kantong plastik hitam berisi barang bekas tertata rapi, siap untuk dijual kembali. Seorang pria terlihat sibuk memilah botol plastik, kardus, dan berbagai jenis barang bekas lainnya, sebuah aktivitas yang menjadi sumber nafkah utamanya sehari-hari. Dua gerobak kayu besar yang sudah lapuk berdiri di dekatnya, berfungsi ganda sebagai alat kerja sekaligus tempat penyimpanan. Setelah beberapa kali dipindahkan dari kolong jembatan oleh petugas, kini mereka menempati celah-celah ruang publik di trotoar dan tepi rel untuk sekadar bertahan hidup.
Dari Kolong Jembatan ke Tepi Rel: Perjuangan Bertahan Hidup
Perjalanan hidup mereka seringkali berpindah-pindah, mencari tempat yang dianggap lebih aman dari penertiban. Karno (50), yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah, telah menghabiskan hampir tiga tahun hidup di tepi rel setelah penertiban di kolong jembatan dekat stasiun kereta api.
"Awalnya saya tidur di kolong jembatan, tapi sering ada penertiban. Akhirnya saya pindah ke tepi rel di sini. Agak aman, meskipun tetap harus waspada terutama di malam hari," tuturnya.
Pengalaman yang berbeda diceritakan oleh Sukinem (38), seorang perempuan asal Brebes. Ia datang ke Jakarta seorang diri, meninggalkan anak-anaknya yang diasuh oleh orang tua di kampung halaman.
"Suami sudah tidak ada. Saya datang ke sini untuk mencari uang. Kalau ada sisa, saya kirim ke anak-anak. Tapi sehari-hari, uangnya hanya cukup untuk makan. Kalau hujan atau ada banyak penertiban, ya tidak dapat apa-apa," keluhnya sambil menata gerobaknya yang penuh dengan kardus dan botol plastik.
Sementara itu, Sarwono (42) memilih area pertigaan dekat kantor Komnas HAM sebagai tempat tinggal sementara bersama istri dan anaknya.
"Kami tidur bertiga di pojokan pertigaan, hanya beralaskan terpal dan kardus. Malam hari jarang tidur nyenyak, kami harus menjaga anak dan barang-barang kami. Lokasi di sini lebih mudah untuk mencari kerja, dekat dengan kantor-kantor dan jalan-jalan di Menteng," jelasnya.
Bagi mereka, pilihan untuk berpindah ke trotoar dan tepi rel bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah keterpaksaan karena ketiadaan alternatif tempat tinggal yang layak. Meskipun sempit dan penuh risiko, lokasi-lokasi ini dianggap lebih aman dibandingkan tidur di kolong jembatan yang kerap menjadi sasaran penertiban.
Sumber Penghasilan Harian yang Tak Menentu
Hidup di jalanan menuntut kreativitas dalam mencari penghasilan. Komunitas warga kolong ini mengandalkan barang bekas, botol plastik, kardus, dan sisa makanan yang mereka kumpulkan dari pedagang pasar atau kantor di sekitar Menteng.
"Kalau ada acara di kantor atau pasar membuang botol plastik, satu gerobak bisa menghasilkan sekitar Rp 15.000. Kalau lagi sepi, paling hanya dapat Rp 7.000," kata Ale.
Pendapatan mereka sangat tidak menentu. Di hari-hari yang baik ketika banyak barang bekas tersedia, ia bisa mengantongi hingga Rp 50.000. Namun, di hari-hari terburuk, ia hanya mendapatkan Rp 10.000. Uang tersebut sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Sukinem memiliki penghasilan yang lebih terbatas lagi. "Rata-rata Rp 30.000–40.000 per hari. Kalau hujan atau ada penertiban, ya tidak dapat apa-apa. Yang terpenting adalah bisa mengirim sedikit uang untuk anak-anak di kampung," ujarnya.
Ketidakpastian penghasilan ini memaksa mereka untuk hidup sangat sederhana, berbagi barang, dan memaksimalkan apa pun yang mereka miliki. Gerobak dan karung menjadi aset berharga yang berfungsi sebagai alat kerja sekaligus tempat penyimpanan sementara barang-barang temuan mereka.
Penertiban dan Realitas Kehidupan di Ruang Publik
Kasatpol PP Jakarta Selatan, Nanto Dwi Subekti, menyatakan bahwa penertiban yang dilakukan selalu mengedepankan pendekatan humanis. "Saat ini kami hanya melakukan penjangkauan dan patroli rutin. Jika ada yang membandel, baru kami lakukan penertiban. Kalau kedapatan saat operasi Penyakit Masyarakat (PMKS), mereka akan dikirim ke panti sosial," jelasnya. Patroli rutin dilaksanakan setiap hari untuk menjaga ketertiban dan keamanan ruang publik.
Namun, kenyataannya, warga kolong ini seringkali kembali ke trotoar atau tepi rel karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal permanen. Ningsih (45), pemilik warung di dekat lintasan rel Jalan Guntur, mengamati fenomena ini dari dekat. "Kalau hujan, mereka pergi sebentar, lalu kembali lagi. Ada bantuan dari pemerintah, tetapi memang tidak mengubah pilihan mereka. Tetap saja hidup di jalanan," katanya.
Warga sekitar sudah terbiasa dengan keberadaan dan aktivitas mereka. "Lihat saja mereka, kadang berpindah-pindah ke Pasar Rumput. Ada yang bersama anak-anaknya, ada yang berdua dengan istrinya, atau ada juga yang sendirian," ujar Ningsih.
Riyan (31), seorang pengemudi ojek pangkalan di sekitar lokasi, turut berpendapat mengenai keberadaan warga kolong. "Kasihan sih, tapi hidup di Jakarta memang harus siap punya uang untuk tempat tinggal. Kalau tidak ada pilihan, mereka akan kembali lagi ke kolong jembatan atau trotoar," ungkapnya.
Alasan Bertahan di Jantung Ibu Kota
Bagi warga kolong, area Menteng dan sekitarnya bukan hanya sekadar lokasi geografis, tetapi juga merupakan sumber utama mata pencaharian mereka. "Kalau saya jauh dari sini, istri dan anak-anak saya akan kesulitan jika hujan atau ada masalah apa pun. Dekat sini lebih mudah bagi saya untuk mencari barang bekas berupa plastik dan kardus," ujar Ale.
Menurut pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna, warga kolong memilih lokasi strategis di area seperti Menteng karena beberapa faktor penting, terutama terkait ekonomi dan keamanan. "Mereka memilih tempat yang relatif aman dari razia Satpol PP, tidak mengganggu permukiman warga, dan yang terpenting adalah dekat dengan sumber mata pencaharian mereka," jelas Yayat saat dihubungi.
Keberadaan komunitas sesama warga kolong juga memegang peranan penting. Dukungan dari komunitas memungkinkan mereka untuk berbagi ruang, saling menjaga keamanan barang-barang mereka, dan mengurangi risiko gangguan, baik dari aparat maupun warga sekitar. Selain itu, lokasi yang dekat dengan fasilitas umum, seperti toilet umum atau taman, juga sangat memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. "Gerobak yang mereka miliki berfungsi ganda sebagai tempat tinggal sekaligus alat kerja. Mereka memilih tempat yang dekat dengan fasilitas umum untuk memudahkan kebutuhan sanitasi," tambah Yayat.
Keterbatasan Ekonomi dan Ruang Kota: Strategi Bertahan Hidup yang Pragmatis
Yayat Supriyatna menjelaskan bahwa strategi yang diterapkan oleh warga kolong ini merupakan bentuk adaptasi cerdas terhadap keterbatasan ekonomi dan ruang kota yang semakin sempit. "Mobilitas mereka sangat terbatas, radius aktivitas biasanya hanya sekitar 1–3 kilometer, dan mereka cenderung menempati lokasi yang dianggap paling aman mulai dari pagi hingga malam hari," katanya.
Yayat menekankan bahwa perilaku warga kolong ini tidak semata-mata disebabkan oleh kemiskinan, tetapi juga menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap dinamika ruang kota. "Kelompok ini memang termarginalkan, namun mereka memiliki pemahaman yang baik dalam memilih tempat tinggal yang efisien, dekat dengan sumber mata pencaharian, aman dari gangguan, dan mudah diakses untuk kebutuhan sanitasi," ujar Yayat.
Lokasi yang mereka pilih bukanlah pilihan acak. "Mereka memahami wilayah tersebut secara teritorial, mengatur kehidupan mereka secara kolektif, dan menempati lokasi pada jam-jam yang dianggap paling aman. Ini adalah strategi bertahan hidup yang sangat pragmatis dari kelompok yang termarjinalkan," imbuhnya.
Fenomena warga kolong yang mendiami area Menteng dan sekitar lintasan rel kereta api menjadi cerminan nyata dari kompleksitas kehidupan urban di Jakarta. Di tengah kota yang terus berkembang pesat dengan kawasan-kawasan elite, masih tersisa ruang bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi, memaksa mereka untuk mengisi celah-celah ruang publik yang ada demi kelangsungan hidup.
0 Response to "Terdampar di Trotoar: Potret Marginal Jakarta"
Posting Komentar