
Diplomasi Kopi dan Puisi: Merajut Budaya, Membangun Identitas Bangsa
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, tepatnya di Ruang HB Jassin, Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) Taman Ismail Marzuki, sebuah diskusi yang unik bertajuk "Diplomasi Kupi dan Puisi" digelar pada Ahad, 9 November 2025. Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, PDS HB Jassin, dan Komunitas Desember Kopi Gayo ini, bukan sekadar ajang bertukar pikiran biasa, melainkan sebuah perayaan budaya yang mengaitkan dua elemen penting: kopi dan puisi.
Murizal Hamzah, seorang pegiat literasi dan penulis buku, bertindak sebagai moderator dalam diskusi tersebut. Ia membuka forum dengan sebuah pernyataan menarik, "Besok pagi kita minum kopi di Meulaboh atau saya syahid." Pernyataan ini memicu tawa dan rasa penasaran para hadirin. Murizal kemudian menjelaskan bahwa kalimat tersebut sebenarnya mengutip ucapan Presiden Prabowo Subianto, yang dikenal sebagai pecinta kopi sejati.
Kopi Sebagai Identitas dan Gaya Hidup
Prabowo Subianto bukan sekadar peminum kopi biasa, melainkan seorang penikmat kopi yang mendalam. Kecintaannya pada kopi bahkan disamakan dengan kesetiaannya pada negara. Sebuah anekdot diceritakan mengenai insiden di mana ajudannya tanpa sengaja menyajikan teh di hadapannya. Tanpa ragu, Presiden Ke-8 RI ini menegur anak buahnya. Bagi Prabowo, kopi bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan telah menyatu dengan jiwanya. "Ada kopi ada cerita. Lain kopi lain cerita. Tidak ada kopi, jangan banyak cerita," demikian filosofi yang dipegang teguh olehnya.
Pernyataan kedua Murizal, "Besok pagi kita minum kopi di Meulaboh atau saya syahid," merujuk pada peristiwa heroik Teuku Umar pada 10 Februari 1899. Perjuangan Teuku Umar yang berakhir syahid di Aceh Barat, seolah menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan dapat diiringi dengan kenikmatan kopi. Jika saja pasukan Teuku Umar berhasil meraih kemenangan, perayaan kemenangan itu tentu akan diwarnai dengan tegukan kopi bergelas-gelas dan hidangan khas Meulaboh, timphan.
Jarum sejarah memang takdir. Peristiwa tragis Teuku Umar yang gugur tertembak peluru Belanda, tak terlepas dari peran rokok yang menyala di bibirnya, sebuah gambaran bagaimana kopi dan rokok kerap menemani para pejuang, dari meja diskusi hingga akhir hayat.
Misteri Kopi Racikan Prabowo: Kopi Hambalang
Meskipun Prabowo Subianto dikenal sebagai pecinta kopi, jenis kopi spesifik yang dinikmatinya masih menjadi misteri bagi banyak orang. Namun, bocoran didapat dari Amir Faisal, pemilik The Atjeh Connection. Amir mengaku pernah mencicipi racikan kopi Prabowo di Hambalang, Jawa Barat.
"Rasanya sangat enak. Dan saya tidak tahu racikannya apa saja bahannya? Ketika saya tanya, ya tetap rahasia. Jadi misterius hingga kini," ungkap Amir disambut gelak tawa puluhan peserta diskusi.
Saat ditanya apakah Prabowo menggunakan kopi Gayo dalam racikannya, mengingat Prabowo memiliki lahan luas di Gayo, Amir mengaku tidak tahu pasti. Ia hanya bisa memastikan bahwa kopi racikan Prabowo itu sangat enak dan membuat ketagihan. Amir sendiri telah berulang kali mencoba meracik kopi serupa, namun tak berhasil menyamai rasa kopi olahan Prabowo.
Akhirnya, terkuak bahwa Prabowo Subianto memang meminum kopi racikan khasnya sendiri, yang ia sebut Kopi Hambalang. Meskipun tidak sepopuler kopi Gayo atau Toraja, Kopi Hambalang memiliki karakteristik unik yang sesuai dengan selera Prabowo. Kopi ini merupakan jenis arabika dengan cita rasa fruity dan sentuhan rasa manis seperti karamel, yang didapat dari pemanis alami seperti kayu manis yang dicelupkan ke dalam seduhan kopi, bukan dari tambahan gula. Prabowo sendiri mengakui bahwa ia mengonsumsi 3-4 cangkir kopi setiap hari, dengan waktu terakhir minum kopi pada pukul 18.00 WIB.
Diplomasi Budaya Melalui Kopi dan Puisi
Diskusi ini juga menyoroti bagaimana kopi dan budaya dapat menjadi alat diplomasi yang efektif. Murizal Hamzah memancing diskusi dengan membandingkan kesuksesan Singapura dalam mempromosikan Kopitiam di kancah internasional, meskipun tidak memiliki kebun kopi. Hal serupa juga terlihat dari fenomena drama Korea yang mampu menjajah selera kuliner masyarakat Indonesia.
"Senada dengan Kopitiam, ada drama-drama Korea yang bikin emak-emak betah berjam-jam duduk di depan televisi dengan remote dipegang erat-erat agar tidak ada yang bisa sabotase ganti saluran. Sukses dengan ekspor film, Korea mengirim menu kulinier ala Korea. Penjajahan lidah sudah berlangsung atas rakyat Indonesia," ujar Murizal.
Pertanyaan pun muncul, kapan merek kafe dan restoran dari Indonesia mampu bersaing di kancah global, seperti Starbucks yang telah merambah hingga ke sekitar Masjid Madinah.
Diskusi ini turut menghadirkan narasumber lain yang ahli di bidangnya, seperti Wien Qertoev (pelatih, petani, dan peracik kopi Gayo), Fikar W Eda (seniman musik Gelingang Raya dan pendiri Desember Kopi Gayo), serta berbagai tokoh penting dari lingkungan pemerintahan dan masyarakat Gayo.
Reza Fahlevi, Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang membuka diskusi, menyambut baik agenda tahunan "Desember Kopi Gayo" yang telah berlangsung sejak 2016. Ia menekankan pentingnya agenda ini masuk dalam kalender nasional agar dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Kopi tidak sekadar komoditas perkebunan, melainkan sudah bagian dari budaya dan pengalaman wisata," tegas Reza. Ia menambahkan bahwa pengembangan hilirisasi kopi yang memberikan nilai tambah, serta pengalaman budaya yang unik dari Gayo, mulai dari menanam, memanen, hingga menyeduh, dapat menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan.
Fikar W Eda menjelaskan bahwa diskusi ini diadakan menjelang "Desember Kopi Gayo" yang akan berlangsung pada November dan awal Desember 2025. Festival ini bertujuan menjadi ruang refleksi bersama bahwa kopi bukan sekadar produk, melainkan alat diplomasi budaya yang dapat memperkuat identitas dan daya saing bangsa.
"Mengapa kita mengadakan festival ini pada Desember? Karena, puncak panen kopi terjadi pada Desember dan tradisi dan budaya memetik kopi ini menarik. Mari kita ke Gayo menikmati dan menjadi bagian dari acara tahunan ini," ajak Fikar.
Acara ini semakin semarak dengan penampilan puisi dan musikalisasi puisi dari berbagai kelompok, seperti SMA Muhammadiyah 4 Jakarta, MA Manaratul Islam, dan Sakatan Pegayon yang membawakan lagu etnik Gayo.
Semangat diplomasi kopi dan puisi ini diharapkan terus berlanjut. Harapannya, kedai kopi dengan merek Indonesia dapat membuka cabang di luar negeri, serta pendapatan petani kopi dapat meningkat seiring dengan semakin melambungnya aroma kopi Indonesia di kancah dunia.
0 Response to "Kopi Prabowo: Racikan Sang Pemimpin"
Posting Komentar